KERAJAAN PERLAK
SEJARAH BERDIRI
KERAJAAN PERLAK.
PERLAK,
di Aceh Timur disebut sebagai kerajaan Islam pertama (tertua) di Nusantara,
bahkan di Asia Tenggara. Kesimpulan dari Seminar Sejarah Masuk dan
Berkembangnya Islam di Aceh dan Nusantara tahun 1980, di Rantau Kuala Simpang
itu didasarkan pada satu dokumen tertua bernama kitab Idharul Haq Fi Mamlakatil
Peureulak, karangan Abu Ishak Al-Makarani Sulaiman Al-Pasy. Itu yang
menyisahkan pertanyaan bagi sebagian sejarawan mengenai kebenaran sejarah itu.
Kitab Idharul Haq yang dijadikan sumber satu-satunya. Sebagian sejarawan
meragukannya keabsahan dari kitab tersebut. Apalagi kitab Idharul Haq yang
diperlihatkan dalam seminar itu katanya bukan dalam bentuk asli, tidak utuh
lagi melainkan hanya lembaran lepas.
Kitab
itu sendiri masih misteri, karena sampai sekarang belum ditemukan dalam bentuk
aslinya. Sehingga ada yang mengatakan kitab Idharul Haq ini hanya satu rekayasa
sejarah untuk menguatkan pendapat bahwa berdasarkan kitab itu, adalah benar
kerajaan Islam pertama di Aceh dan Nusantara adalah kerajaan Islam Perlak.
Banyak peneliti sejarah yang secara kritis, meragukan Perlak sebagai tempat
pertama berdirinya kerajaan Islam besar di Aceh.
Diperkuat dengan belum adanya ditemukan
artevak-artevak atau situs-situs tertua peninggalan sejarah. Sehingga para
peneliti lebih cenderung menyimpulkan kerajaan Islam pertama di Aceh dan
Nusantara adalah kerajaan Islam Samudra Pasai yang terdapat di Aceh Utara.
Banyak bukti yang meyakinkan, baik dalam bentuk teks maupun benda-benda
arkeologis lainnya. Seperti mata uang dirham pasai dan batu-batu nisan yang
bertuliskan tahun wafatnya para Sultan kerajaan Islam Samudra Pasai. Keraguan para sejarawan tentang kerajaan Perlak sebagai bekas
kerajaan Islam pertama yang hanya mengambil dari sumber kita Idharul Haq Fi
Mamlakatil Peureulak, perlu ditelaah lebih jauh.
Mengesampingkan
perdebatan tentang kerajaan Perlak menurut para ahli, sejarah tentang
perkembangan kerajaan Perlak berdiri sendiri dengan sumber-sumber yang
dikumpulkan dikaji menyatakan bahwa kerajaan Perlak adalah kerajaan Islam
tertua di Indonesia. Kerajaan Perlak merupakan kerajaan yang terkenal sebagai
penghasil kayu Perlak, kayu Perlak adalah kayu yang berkualitas bagus untuk
bahan baku pembuatan kapal. Tak heran jika para pedagang dari Gujarat, Arab dan
India tertarik untuk datang ke sini. Pada awal abad ke-8, Kerajaan Perlak
berkembang sebagai bandar niaga yang amat maju. Hal ini tidak terlepas dari
letak yang strategis pula di ujung utara pulau Sumatra atau berada dibibir
masuk selat Malaka. Kondisi ini membuat maraknya perkawinan campuran antara
para saudagar muslim dengan penduduk setempat. Efeknya adalah perkembangan
Islam yang pesat dan pada akhirnya memunculkan Kerajaan Islam Perlak sebagai
kerajaan Islam pertama di Indonesia. Perlak adalah sebuah kerajaan dengan masa
pemerintahan cukup panjang. Kerajaan yang berdiri pada tahun 840 ini berakhir
pada tahun 1292 karena bergabung dengan Kerajaan Samudra Pasai.
Sejarah
kerajaan Perlak tidak terlepas dari kisah seorang Sayid Maulana Ali Al-Muktabar
yang datang ke Perlak, selain Sayid Maulana Ali Al-Muktabar terdapat juga orang
Arab dan Bani Hasyim dan keturunan Rasulullah lainnya yang datang ke Aceh dan
wilayah nusantara lainnya dalam rangka melakukan perdagangan sekaligus menyiarkan
agama Islam dan mereka kemudian berbaur dan menikah dengan penduduk setempat
terutama dengan keluarga Meurah seperti Syarifah Azizah yang menikah dengan
Sultan Perlak ke-115.
Seperti
diketahui dalam sejarah Islam, setelah masa Khalifaturrasyidin berakhir yang
diperintah berturut—turut oleh sahabat Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali, secara
politik muncullah dua dinasti besar yakni Dinasti Umayyah dan Dinasti
Abbasiyah. Berangkat dan perbedan politik ini, pada waktu yang sama, muncul
pula banyak aliran pemahaman dan pengamalan Islam seperti aliran Sunni, Syi’ah
dan Khawarij dan lain sebagainnya.
Dinasti Umayyah dan Abbasiyah sangat menentang aliran
Syi’ah yang dipimpin oleh keturunan Ali bin Abu Thalib yang juga menantu
Rasulullah SAW.
Oleh karena itu, tidak mengherankan aliran
Syi’ah pada era dua dinasti ini tidak mendapatkan tempat yang aman. Karena
jumlahnya minoritas, banyak penganut Syi’ah terpaksa harus menyingkir dan
wilayah yang dikuasai oleh dua dinasti tersebut.
Pada masa Khalifah Makmun bin Harun al-Rasyid (167-219 H /
813-833M), salah satu keturunan Ali bin Abi Thalib di Mekkah yang bernama
Muhammad bin Jakfar al-Shadiq menentang pemerintahan yang dikuasai oleh
Khalifah Makmun yang berpusat di Baghdad. Muhamad bin Jakfar al-Shadiq adalah
Imam Syi’ah ke-6 yang juga masih keturunan Rasulullah SAW. Adapun silsilahnya
sampai ke Rasulullah SAW adalah sebagai berikut: ‘Muhammad
bin Jakfar al-Shadiq bin Muhammad al Baqir- bin Ali Muhammad Zain al-Abidin bin
Sayidina Husain al-Syahid bin Fatimah binti Muhammad Rasulullah SAW”.
Khalifah
Makmun akhirnya mengirim pasukan ke Mekkah untuk meredakan pemberontakan kaum
Syi’ah. Kaum pemberontak dapat ditumpas namun Muhamad bin Jakfar al-Shadiq dan
para penganutnya tidak dibunuh sebaliknya disarankan oleh Khalifah Makmun untuk
berhijrah dan menyebarkan Islam ke Hindi, Asia Tenggara dan daerah sekitarnya.
Sebagai tindak lanjut, maka berangkatlah satu kapal yang
memuat rombongan angkatan dakwah yang di kemudian hari dikenal di Aceh dengan
Nahkoda Khalifah dengan misi menyebarkan Islam.
Salah
satu anggota dan Nahkoda Khalifah itu adalah Sayid Ali al- Muktabar bin
Muhammad Dibai bin Imam Jakfar al-Shadiq.
Menurut kitab Idharul Haq Fi Mamlakat al-Perlak yang
ditulis oleh Syekh Ishak Makarani al-Pasi, pada tahun 173 H (800 M) Bandar
Perlak disinggahi oleh satu kapal yang membawa kurang lebih 100 orang da’i yang
terdiri dan orang-orang Arab dan suku Quraish. Palestina. Persia, dan India di
bawah pimpinan Nahkoda Khalifah sambil berdagang sekaligus berdakwah. Setiap
orang mempunyai keterampilan khusus terutama di bidang pertanian, kesehatan.
pemerintahan, strategi, dan taktik perang serta keahlian-keahlian lainnya.
Ketika sampai di Perlak,
rombongan Nahkoda Khalifah disambut dengan damai oleh penduduk dan penguasa
Perlak yang berkuasa saat itu yakni Meurah Syahir Nuwi. Dengan cara dakwah yang
sangat menarik, akhirnya Meurah Syahir Nuwi memeluk agama Islam sehingga
menjadi raja pertama yang menganut Islam di Perlak. Disisi lain, sambil berdakwah mereka menularkan keahlian itu kepada
penduduk lokal secara perlahan-lahan untuk diterapkan dalam kehidupan mereka.
Kegiatan-kegiatan
ini rupanya menarik penduduk lokal sehingga dalam waktu yang relatif singkat
mereka tertarik masuk Islam dengan suka rela.
Sebagian dan anggota rombongan itu menikah dengan penduduk
lokal termasuk Sayid Ali al-Muktabar kemudian menikah dengan adik Syahir Nuwi
yang bernama Puteri Tansyir Dewi. Pernikahan Sayid Ali Al-Muktabar ini
dianugerahi seorang putra bernama Sayid Maulana Abdul Aziz Syah. Sayid Maulana Abdul Aziz Syah ini setelah dewasa dinobatkan
menjadi Sultan Pertama Kerajaan Islam Perlak bertepatan pada tanggal 1 Muharram
225 H.
Berikut Silsilah Sultan
Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah yang dikutip dan Silsilah Raja-raja
Islam di Aceh dan Hubungannya dengan Raja-raja Islam di Nusantara yang ditulis
oleh T. Syahbuddin Razi. “Sultan Alaiddin Sayid
Maulana Abdul Aziz Syah bin Sayid Ali Al Muktabar bin Sayid Muhammad Diba’i bin
Imam Ja ‘far Asshadiq bin Imam Muhammad Al Baqir bin Saiyidina Ali Muhammad
Zainal Abidin bin Saidina Hussin Assysyahid bin Saidina Ali bin Abi Thalib.
Islam menyebar dengan cepat di kawasan Timur Tengah pada zaman
khalifaturasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali) dan pada masa pemerintahan
Dinasti Umayyah Islam (didirikan oleh Muawiyyah bin Abu Sofyan 661-680 M),
Islam mulai disebarkan hingga kawasan Melayu.
Walaupun
pada awalnya dimotivasi kegiatan perdagangan terutama lada hitam yang
diproduksi oleh kerajaan Melayu jambi, para pedagang Arab berusaha mengajak
rakyat dan Raja Lokitawarman yang beragama Budha untuk masuk Islam. Atas
inisiatif Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) “dakwah Islam mulai
menunjukkan keberhasilannya ketika Raja Lokitawarman diganti Raja Srindrawarman
yang kemudian memeluk agama Islam.
Sejak peristiwa itu, kawasan Melayu dikenal oleh orang
Arab sebagai Sribuza Islam.
Dalam
catatan I-Tsing, saat itu Melayu dibawah kekuasaan Sriwijaya yang beribu kota
di Palembang (Shi Li Fo Shih) dengan Budha sebagai agama resminya. Kerajaan
Islam yang dipimpin Raja Srindrawarman tidak dibiarkan lama berkuasa oleh
Sriwijaya. Dengan bantuan Kerajaan Tang (Cina) yang merasa perdagangan lada
hitamnya terancam oleh pengislaman Jambi, Sriwijaya menundukan Jambi (± 730 M)
setelah menawaskan Indrawarman, raja kedua dan terakhir kerajaan Islam Jambi.
Di masa dinasti Abbasiyah, sekitar awal abad ke-9, Islam
mulai tersebar di Perlak (Aceh) dibawa para ulama Syi’ah yang dipimpin oleh
Nahkoda Khalifah. Mereka merapat di pelabuhan Perlak, Aceh sekitar tahun 820 M
sebagai akibat dan kekalahan golongan Syi’ah oleh dinasti Abbasiyah.
Dinasi
Abbasiyah yang pada saat itu dipimpin Khalifah Al-Makmun (813-833) meredam
pemberontakan kaum Syi’ah Alawiyah yang dipimpim Muhammad bin Ja’far As-Sadiq
di Mekkah. Walaupun menang, Khalifah Al-Makmun melepas dan bahkan menganjurkan
mereka untuk berdakwah ke luar kawasan Arab dan satu di antara rombongan kaum
Syi’ah itu adalah rombongan Nahkoda Khalifah.
Pemerintahan Perlak sendiri pada saat itu masih berupa
pelabuhan yang dikelilingi pemukiman dan dibawah kontrol penguasa Syahr Nuwi
keturunan Persia dan Cina.
Salah
seorang di antara anggota Nahkoda Khalifah adalah Ali bin Muhammad bin Ja’far
As-Sadiq yang menikah dengan adik/ anak Meurah Syahr Nuwi yang bernama Puteri
Makhdum Tansyuri (Tansyir Dewi).
Dari darah Puteri Makhdum Tansyuri (Tansyir Dewi) inilah
lahir anak cucu yang dikemudian hari menjadi pejuang dan penyebar Islam ke
berbagai wilayah di nusantara. Perkawinan Puteri
Makhdum Tansyuri dan keturunan Rasulullah SAW, Ali bin Muhammad bin Ja’far
As-Sadiq dikarunia seorang putera yang diberi nama Sayid Abdul Aziz, yang
setelah dewasa diangkat menjadi Sultan Perlak Pertama pada tahun 840 M dengan
gelar Sultan Sayid Maulana Abdul Aziz Syah sekaligus sebagai momen berdirinya
kerjaaan Islam pertama di nusantara.
Para
penguasa yang beraliran Syi’ah mulai dan sultan pertama sampai sultan kelima
(terakhir) kemudian dikenal sebagai Dinasti Aziziyah dan berakhir setelah
diganti oleh para sultan dan Dinasti Makhdum yang beraliran Ahlu Sunnah Waljamaah.
Dalam usaha regenerasi syiar Islam, Dinasti Aziziyah
mendirikan beberapa zawiyah atau dayah (sekolah dan pondok pesantren) sebagai
pusat pengajaran dan pendalaman Islam. Sebagai contoh, Sultan Sayid Maulana
Abdul Rahim Syah mendirikan Dayah Bukit Tjek Brek dan Sultan Sayid Maulana
Abbas Syah mendirikan Dayah Cot Kala. Dari lembaga-lembaga pendidikan ini,
Islam Syi’ah berkembang di Perlak dan daerah sekitarnya.
Dengan berdirinya
kerajaan Islam Perlak, semakin banyak orang Arab yang datang untuk berdagang
baik dan kalangan Syi’ah maupun Sunni. Mereka tidak hanya berdagang tetapi juga
menyebarkan aliran Islam yang mereka yakini. Kalangan Sunni mempengaruhi elite
lokal yang juga masih kerabat istana Perlak. Kedua aliran ini terus menyebarkan
pengaruhnya hingga sampai pada perebutan kekuasaan dan perlawanan terbuka
terjadi pada masa sultan Perlak keempat yakni, Sultan Sayid Maulana Ali
Mughayat Syah (915-918 M). Perebutan kekuasaan
akhirnya dimenangkan pihak Sunni sekaligus menandai keruntuhan Dinasti Sayid
atau Aziziyah dan lahirnya Dinasti Makhdum. Sultan kelima Perlak sekaligus
sultan pertama dan kalangan Sunni adalah Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul
Kadir Syah Johan Berdaulat (918-922 M).
Untuk menstabilkan
Perlak, golongan Syi’ah diangkat menjadi Perdana Menteri. Wakil Syi’ah Maulana
Abdullah diangkat menjadi Perdana Menteri oleh sultan Perlak keenam, yakni
Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat (922-946 M).
Sultan Muhammad Amin Syah sendiri adalah seorang ulama besar sekaligus pengasuh
pondok pesantren Cot Kala. Pengangkatan Maulana
Abdullah sebagai perdana menteri belum mampu meredam perlawanan kaum Syi’ah
sampai akhirnya terjadi perang saudara pada masa sultan ketujuh. yakni Sultan
Makhdum Alaiddin Abdul Malik Syah Johan Berdaulat (946-973 M).
Perang
ini berlangsung sampai empat tahun dan baru berakhir setelah dibuat perjanjian
damai yang dikenal dengan Perjanjian Alue Meuh pada tanggal 10 Muharram 353 H.
Perjanjian tersebut mengatur pembagian Perlak menjadi dua:
Perlak Baroh (berpusat di Bandar Khalifah) dengan wilayah di pesisir pantai
diserahkan kepada Dinasti Aziziyah dan Perlak Tunong dengan wilayah di
pedalaman diserahkan kepada Dinasti Makhdum. Sejak itu tercapailah perdamaian
antara kedua aliran tersebut dan Islam semakin menyebar di Sumatera bagian
utara.
Namun
Islam Syi’ah tidak berkembang karena Perlak Baroh dihancurkan Sriwijaya dalam
suatu serangan tahun 986. Pada saat itu Perlak Baroh dipimpin Sultan Sayid
Maulana Mahmud Syah (976-988). Sultan Sayid Maulana Mahmud Syah juga mangkat
dalam usaha mempertahankan kerajaannya.
Kerajaan Perlak Tunong yang dikuasai kaum Sunni selamat
karena Sriwijaya terpaksa harus menarik mundur pasukkannya dari Perlak sebab
mendapat ancaman dari Dharma Bangsa dan Jawa.
Islam Sunni terus
berkembang bahkan pada zaman Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan
Berdaulat (1012-1059 M) menyatukan kedua wilayah Perlak tersebut dalam satu
bendera Perlak dan bahkan mengislamkan Raja Lingga, Adi Genali melalui
utusannya yang bernama Syekh Sirajuddin.
Sejak
berdiri sampai bergabungnya Perlak dengan kerajaan Samudrar Pasai, terdapat 19
orang raja yang memerintah. Raja yang pertama ialah Sultan Alaidin Saiyid
Maulana Abdul Aziz Syah (225–249 H / 840–964 M). Sultan bernama asli Saiyid Abdul
Aziz pada tanggal 1 Muhharam 225 H dinobatkan menjadi Sultan Kerajaan Perlak.
Setelah pengangkatan ini, Bandar Perlak diubah menjadi Bandar Khalifah.
Kerajaan ini mengalami masa jaya pada masa pemerintahan Sultan Makhdum Alaidin
Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat (622-662 H/ 1225-1263 M). Pada masa
pemerintahannya, Kerajaan Perlak mengalami kemajuan pesat terutama dalam bidang
pendidikan Islam dan perluasan dakwah Islamiah.
Sultan
mengawinkan dua putrinya: Putri Ganggang Sari (Putri Raihani) dengan Sultan
Malikul Saleh dari Samudra Pasai serta Putri Ratna Kumala dengan Raja Tumasik
(Singapura sekarang). Perkawinan ini dengan Parameswara Iskandar Syah yang
kemudian bergelar Sultan Muhammad Syah. Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad
Amin Syah II Johan Berdaulat kemudian digantikan oleh Sultan Makhdum Alaidin
Malik Abdul Aziz Syah Johan Berdaulat (662-692 H/1263-1292 M). Inilah sultan
terakhir Perlak. Setelah beliau wafat, Perlak disatukan dengan Kerajaan Samudra
Pasai dengan raja Muhammad Malikul Dhahir yang adalah Putra Sultan Malikul
Saleh dengan Putri Ganggang Sari.
Para
Sultan Perlak dapat dikelompokkan menjadi dua dinasti, yaitu Dinasti Sayid
Maulana Abdul Azis Syah dan Dinasti Johan Berdaulat. Di bawah ini merupakan
nama-nama sultan yang memerintah kerajaan perlak ;
- Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Azis Syah (840
– 864
- Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Rahim Syah (864 – 888)
- Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abbas Syah (888 – 913)
- Sultan Alaiddin Sayid Maulana Ali Mughat Syah (915 – 918)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir (928 – 932)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin (932 – 956)
- Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik (956 – 983)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim (986 – 1023)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud (1023 – 1059)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik mansur (1059 – 1078)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah (1078 – 1109)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad (1109 – 1135)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik mahmud (1135 – 1160)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad (1173 – 1200)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Jalil (1200 – 1230)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin (1230 – 1267)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz (1267 – 1292).
- Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Rahim Syah (864 – 888)
- Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abbas Syah (888 – 913)
- Sultan Alaiddin Sayid Maulana Ali Mughat Syah (915 – 918)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir (928 – 932)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin (932 – 956)
- Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik (956 – 983)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim (986 – 1023)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud (1023 – 1059)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik mansur (1059 – 1078)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah (1078 – 1109)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad (1109 – 1135)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik mahmud (1135 – 1160)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad (1173 – 1200)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Jalil (1200 – 1230)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin (1230 – 1267)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz (1267 – 1292).
PERGOLAKAN.
Pergolakan
pada kerajaan perlak lebih dipengaruhi oleh adanya perbedaan Aliran Islam
antara Sunni dengan Syiah, perbedaan ini telah berlangsung lama tak kala masa Dinasti
Umayyah dan Abbasiyah sangat menentang aliran Syi’ah yang dipimpin oleh
keturunan Ali bin Abu Thalib yang juga menantu Rasulullah SAW.
Sejarah
keislaman di Kesultanan Perlak tidak luput dari persaingan antara kelompok
Sunni dan Syiah. Perebutan kekuasaan antara dua kelompok Muslim ini menyebabkan
terjadinya perang saudara dan pertumpahan darah. Silih berganti kelompok yang
menang mengambil alih kekuasaan dari tangan pesaingnya.
Aliran
Syi‘ah datang ke Indonesia melalui para pedagang dari Gujarat, Arab, dan
Persia. Mereka masuk pertama kali melalui Kesultanan Perlak dengan dukungan
penuh dari dinasti Fatimiah di Mesir. Ketika dinasti ini runtuh pada tahun
1268, hubungan antara kelompok Syi‘ah di pantai Sumatera dengan kelompok Syi‘ah
di Mesir mulai terputus. Kondisi ini menyebabkan konstelasi politik Mesir
berubah haluan. Selanjutnya Dinasti Mamaluk memerintahkan pasukan yang dipimpin
oleh Syaikh Ismail untuk pergi ke pantai timur Sumatra dengan tujuan utamanya
adalah melenyapkan pengikut Syi‘ah di Kesultanan Perlak dan Kerajaan
SamuderaPasai.
Sebagai
informasi tambahan bahwa raja pertama Kerajaan Samudera Pasai, Marah Silu dengan
gelar Malikul Saleh berpindah agama, yang awalnya beragama Hindu kemudian memeluk
Islam aliran Syiah. Oleh karena dapat dibujuk oleh Syaikh Ismail, Marah Silu kemudian
menganut paham Syafii. Dua pengikut Marah Silu, Seri Kaya dan Bawa Kaya juga menganut
paham Syafii, sehingga nama mereka berubah menjadi Sidi Ali Chiatuddin dan Sidi
Ali Hasanuddin. Ketika berkuasa Marah Silu dikenal sebagai raja yang sangat
anti terhadap pemikiran dan pengikut Syi‘ah.
Aliran
Sunni mulai masuk ke Kesultanan Perlak, yaitu pada masa pemerintahan sultan
ke-3, Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah. Setelah ia meninggal pada tahun
363 H (913 M), terjadi perang saudara antara kaum Syiah dan Sunni, yang
menyebabkan kesultanan dalam kondisi tanpa pemimpin. Pada tahun 302 H (915 M),
kelompok Syiah memenangkan perang. Sultan Alaiddin Syed Maulana Ali Mughat Shah
dari aliran Syiah kemudian memegang kekuasaan kesultanan sebagai sultan ke-4
(915-918). Ketika pemerintahannya berakhir, terjadi pergolakan antara kaum
Syiah dan Sunni, hanya saja untuk kali ini justru dimenangkan oleh kelompok
Sunni.
Kurun
waktu antara tahun 918 hingga tahun 956 relatif tidak terjadi gejolak yang
berarti. Hanya saja, pada tahun 362 H (956 M), setelah sultan ke-7, Sultan Makhdum
Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat meninggal, terjadi lagi pergolakan
antara kelompok Syiah dan Sunni selama kurang lebih empat tahun. Bedanya,
pergolakan kali ini diakhiri dengan adanya itikad perdamaian dari keduanya.
Kesultanan kemudian dibagi menjadi dua bagian. Pertama, Perlak Pesisir (Syiah)
dipimpin oleh Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah (986 – 988). Kedua, Perlak
Pedalaman (Sunni) dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah
Johan Berdaulat (986 – 1023).
Kedua
kepemimpinan tersebut bersatu kembali ketika salah satu dari pemimpin kedua
wilayah tersebut, yaitu Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah meninggal. Ia
meninggal ketika Perlak berhasil dikalahkan oleh Kerajaan Sriwijaya. Kondisi
perang inilah yang membangkitkan semangat bersatunya kembali kepemimpinan dalam
Kesultanan Perlak. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat,
yang awalnya hanya menguasai Perlak Pedalaman kemudian ditetapkan sebagai
Sultan ke-8 pada Kesultanan Perlak. Ia melanjutkan perjuangan melawan Sriwijaya
hingga tahun 1006. Sultan ke-8 sebenarnya berpaham aliran Sunni, namun
sayangnya belum ditemukan data yang menyebutkan apakah terjadi lagi pergolakan
antar kedua aliran tersebut.
Perjanjian
tersebut mengatur pembagian Perlak menjadi dua: Perlak Baroh (berpusat di
Bandar Khalifah) dengan wilayah di pesisir pantai diserahkan kepada Dinasti
Aziziyah dan Perlak Tunong dengan wilayah di pedalaman diserahkan kepada
Dinasti Makhdum. Sejak itu tercapailah perdamaian antara kedua aliran tersebut
dan Islam semakin menyebar di Sumatera bagian utara.
Namun Islam Syi’ah tidak berkembang karena Perlak Baroh
dihancurkan Sriwijaya dalam suatu serangan tahun 986.
PENGGABUNGAN DENGAN
KERAJAAN SAMUDERA PASAI
Setelah
perdamaian antara kaum Sunni dan Syi’ah, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad
Amin Shah II Johan Berdaulat melanjutkan perjuangan melawan Sriwijaya hingga
tahun 1006. kemudian melakukan politik persahabatan dengan negeri-negeri
tetangga untuk memperkuat kekuatan guna menghadapi serangan balasan dari kerajaan
Sriwijaya. Ia menikahkan dua orang puterinya dengan para pemimpin kerajaan
tetangga. Putri Ratna Kamala dinikahkan dengan Raja Kerajaan Malaka,
Sultan Muhammad Shah (Parameswara) dan Putri Ganggang dinikahkan dengan Raja
Kerajaan Samudera Pasai, al-Malik al-Saleh. Kesultanan Perlak berakhir setelah
Sultan yang ke-18, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat
meninggal pada tahun 1292.
Kesultanan
Perlak kemudian menyatu dengan Kerajaan Samudera Pasai di bawah kekuasaan
sultan Samudera Pasai yang memerintah pada saat itu, Sultan Muhammad Malik Al
Zahir yang juga merupakan putera dari al-Malik al-Saleh. Meski telah
menjalankan politik damai dengan mengikat persaudaraan, ketegangan politik itu
rupanya tetap saja mengancam kedaulatan kesultanan Perlak. Perlak goyah, Sultan
makdum Aliddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat (1267 – 1292) menjadi sultan
yang terakhir. Setelah ia meninggal, perlak disatukan dengan kerajaan Samudra
Pasai di bawah pemerintahan Sultan Muhammad Malik Al-Zahir, putra Al-Saleh. Dan
pada masa inilah merupakan tanda berakhirlah kerajaan Perlak.
Berbagai
pendapat tentang kerajaan Islam pertama adalah Perlak atau Samudra Pasai di
Indoensia, dengan berbagai pengkajian ilmiah dan penelitian artevak-artevak
yang ditemukan maka sebagian pendapat bahwa Perlak merupakan kerajaan yang
pertama berdiri dan mempunyai sejarah gemilang dapat didukung oleh adanya /
ditemukannya sumber-sumber dan bukti-bukti sejarah.
1) Naskah-naskah Tua Berbahasa Melayu
Naskah-naskah tua yang dijadikan
sebagai rujukan mengenai keberadaan Kerajaan Perlak paling tidak ada tiga yakni
:
·
Idharatul Haq fi
Mamlakatil Ferlah wal Fasi, karangan buku Abu Ishak Makarani Al Fasy.
·
Kitab Tazkirah Thabakat
Jumu Sultan As Salathin, karangan Syekh Syamsul Bahri Abdullah As Asyi.
·
Silsilah Raja-raja
perlak dan Pasai, catatan Saiyid Abdullah Ibn Saiyid Habib Saifuddin.
·
Jumu Sultan As
Salathin, karangan Syekh Syamsul Bahri Abdullah As Asyi.
·
Silsilah Raja-raja
perlak dan Pasai, catatan Saiyid Abdullah Ibn Saiyid Habib Saifuddin.
Ketiga
naskah tua tersebut mencatat bahwa kerajaan islam pertama Nusantara adalah
Kerajaan Islam Perlak. Hanya di sana-sini terdapat perbedaan tahun dan tempat,
karena mungkin terjadi karena kekurangan telitian para penyalinnya. Misalnya
mengenai tahun berdirinya kerajaan perlak, Kitab Idharul Haq fi Mamlakatil
Perlab val fasi menyebut tahun 225 sementara Tazkirah ThabakatSulthan As
Salathin menyebut tahun 227. secara tegas Kitab Idharul Haq fi Mamlakatil.
Ferlah wal Fasi menyebutkan bahwa kerajaan Perlak didirikan pada tanggal 1
Muhharam 225 H (840M) dengan rajanya yang pertama adalah Sultan Alaidin Saiyid
Maulana Abdul Aziz Syah, yang semula bernama Syaid Abdul Aziz.
2) Bukti-bukti Peninggalan Sejarah
Bukti-bukti
peninggalan sejarah yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mendukung dan
membukti mengenai keberadaan Kerajaan perlak ada tiga yakni ; mata uang perlak,
stempel kerajaan dan makam raja-raja Benoa. Dengan uraian sebagai berikut :
·
Mata Uang Perlak
Mata uang Perlak ini
diyakini merupakan mata uang tertua yang diketemukan di Nusantara. Ada tiga
jenis mata uang yang ditemukan, yakni yang pertama terbuat dari emas (dirham)
yang kedua dari Perak (kupang) sedang yang ketiga dari tembaga atau kuningan.
· Mata
uang dari emas (dirham)
Pada sebuah sisi uang
tersebut tertulis ”al A’la” sedang pada sisi yang lain tertulis ”Sulthan”.
Dimungkinkan yang dimaksud dalam tulisan dari kedua sisi mata uang itu adalah
Putri Nurul A’la yang menjadi Perdana Menteri pada masa Sulthan Makhdum Alaidin
Ahmad Syah Jauhan Berdaulat yang memerintah Perlak tahun 501-527 H (1108 – 1134
M).
· Mata
uang perak (kupang)
Pada satu sisi mata
uang Perak ini tertulis ”Dhuribat Mursyidam”, dan pada sisi yang tertuliskan
”Syah Alam Barinsyah”. Kemungkinan yang dimaksud dalam tulisan kedua sisi mata
uang itu adalah Puteri Mahkota Sultan Makhdum Alaidin Abdul Jalil Syah Jouhan
Berdaulat, yang memerintah tahun 592 – 622 H (199 – 1225 M). Puteri mahkota ini
memerintah Perlak karena ayahnya sakit. Ia memerintah dibantu adiknya yang
bernama Abdul Aziz Syah.
· Mata
uang tembaga (kuningan)
Bertuliskan huruf Arab
tetapi belum dapat dibaca. Adanya mata uang yang ditemukan ini menunjukkan
bahwa Kerajaan Perlak merupakan sebuah kerajaan yang telah maju.
· Stempel
kerajaan
Stempel kerajaan ini
bertuliskan huruf Arab, model tulisan tenggelam yang membentuk kalimat ”Al
Wasiq Billah Kerajaan Negeri Bendahara Sanah 512”. Kerajaan Negeri Bendahara
adalah menjadi bagian dari Kerajaan Perlak.
· Makam
Raja Benoa
Bukti lain yang memperkuat
keberadaan Kerajaan Perlak adalah makam dari salah raja Benoa di tepi Sungai
Trenggulon. Batu nisan makan tersebut bertuliskan huruf Arab. Berdasarkan
penelitian Dr. Hassan Ambari, nisan makam tersebut dibuat pada sekitar abad
ke-4 H atau abad ke-11 M. Berdasarkan catatan Idharul Haq fi Mamlakatil Ferlah
wal Fasi, benoa adalah negara bagian dari Kerajaan Perlak.
No comments:
Post a Comment