• GOEDANG BIOGRAFI

    Sunday, May 8, 2016

    Marcopolo, Menulusuri Jalan Sutera Sampai Cina



    Marcopolo
    Menulusuri Jalan Sutera Sampai Cina

     

    Pada tahun 1925, tiga orang pria turun dari sebuah kapal di salah satu pelabuahan di Venesia. Mereka tampak pulang dari  melakukan perjalanan yang jauh. Penampilannya yang mencolok membuat banyak perhatian pada kepulangannya setelah selama 24 tahun berada di mancanegara. Mereka itu adalah Marcopolo, ayahnya dan pamannya.

                Kisah perjalanan Marcopolo menelusuri Jalur Sutera sampai ke negeri Cina dikisahkan dalam sebuah buku yang ditulis oleh Marcopolo sendiri. Awalnya judul buku itu adalah “Uraian Tentang Dunia,” namun sekarang dikenal dengan “Perjalanan Marco Polo.” Buku itu sangat mengagetkan orang-orang yang hidup sejaman karena selain mengisahkan perjalanan Marco, Ayah dan Pamannya, juga mengisahkan tentang kebudayaan daerah Timur yang maju.
                Setelah dua puluh lima tahun Marco pulang dari merantau selama 24 tahun, buku itu sangat laris dan dicetak dalam berbagai bahasa yaitu bahasa Frank-Italia, Prancis, Latin Tuskani, Venesia, dan kemungkinan besar bahasa Jerman, ini adalah sebuah keberhasilan yang belum ada duanya pada masa itu. Bukunya berulang kali disalin dengan tangan selama dua abad dan sejak tahun 1477 terus di cetak dalam banyak bahasa. Marco Polo tampaknya adalah orang Eropa terpopuler yang pernah menyusuri jalan sutera ke Negri Cina.

    Perjalanan Ayah dan Pamannya Marco
                Niccolo dan Maffeo Polo adalah ayah dan paman Marco, mereka merupakan pedagang Venesia yang pada sekitar tahun 1260 berdagang permata dan menetap di kota Konstantinopel, yang sekarang disebut Istambul. Pada suatu waktu saat mereka melakukan perdagangan di kota Sarai, tepi Sungai Volga, yang merupakan ibukota wilayah barat imperium Mongol. Setelah perdagangan Mereka tidak bisa kembali ke Konstantinopel karena adanya perang. Mereka kemudian melakukan perjalanan ke arah timur dengan berkuda ke kota dagang Bukhara yang sekarang termasuk wilayah Uzbekistan.
                Mereka tinggal di daerah itu selama tiga tahun karena adanya pergolakan. Pada suatu ketika datanglah rombongan yang sedang melakukan perjalanan untuk menemui Kubilai Khan. Kubilai Khan adalah pemimpin bangsa Mongol yang kekuasaannya membentang dari Korea sampai Polandia. Rombongan itu mengajak Niccolo dan Maffeo Polo untuk ikut dalam perjalanan mereka dan berangkatlah mereka menuju Kubilai Khan.
    Setelah melakukan perjalanan selama satu tahun, akhirnya rombongan itu sampaijuga di istana Kubilai Khan yang juga merupakan cucu dari Jengis Khan sang pendiri Imperium Mongol. Kubilai Khan sangat senang atas kedatangan Ayah dan Paman Marco dan banyak bertanya tentang Eropa. Mereka sangat disukai dan dihargai oleh Kubilai Khan.
    Ketika Polo bersaudara itu akan pulang, Khan mempercayakan surat kepada mereka untuk diserahkan kepada Paus. Surat itu berisi permohonan dari Kubilai Khan untuk Paus agar mengirimkan sekitar 100 orang bijak yang memahami hukum kristen dan menguasai tujuh bidang seni untuk diajarkan kepada rakyat Khan.

    Marcopolo Ikut Menjelajah
                Marcopolo melihat ayah dan pamannya pertama kali adalah saat dia berumur 15 tahun yaitu pada tahun 1269 saat kepulangan Niccolo dan Maffeo di Eropa dari negeri Cina. Saat Polo bersaudara ingin menyampaikan surat dari Khan kepada Paus, ternyata Paus pada waktu itu, yaitu Paus Klemens IV wafat. Proses penggantiannya untuk menentukan Paus yang baru memerlukan waktu tiga tahun. Tahun 1271, setelah menunggu selama dua tahun Nicolo dan Maffeo berangkat dan membawa Marcopolo yang pada waktu itu berusia 17 tahun.
    Saat keluarga Polo berangkat, seorang politikus gereja yang terkenal bernama Teobaldo Visconti memberikan surat kepada keluarga Polo untuk disampaikan kepada Khan. Surat itu menjelaskan bahwa kenapa keluarga Polo tidak bisa memberikan orang bijak yang diminta Khan. Namun, saat keluarga Polo berjalan sampai di Asia Kcil, terdengar kabar bahwa Visconti sendirilah yang dilantik sebagai paus, maka kembalilah keluarga Polo itu untuk menemui Visconti yang sudah berganti nama menjadi Gregorius X karena diangkat menjadi paus.
    Gregorius X tidak mengirimkan 100 orang bijak seperti yang diminta Khan, namun dia hanya mengirimkan dua orang pastor saja yang diberi wewenang untuk melantik pastor dan uskup. Ia juga memberikan keluarga Polo surat-surat dan hadiah bagi Khan. Namun tak lama setelah keluarga Polo berangkat menuju Cina, dua pastor yang dikirimkan untuk Khan itu kembali pulang karena takut akan perang yang sedang terjadi di rute perjalanan. Sedangkan keluarga Polo tetap melanjutkan perjalanan.
    Marcopolo beserta ayah dan pamannya menjelajahi negeri-negeri yang sekarang dikenal dengan nama Turki dan Iran. Mereka kemudian membelok ke selatan menuju teluk Persia untuk melanjutkan perjalanan lewat laut. Namun melihat kapal-kapal di sana tidak layak pakai untuk melaut, mereka kemudian memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lewat jalan darat.
                Mereka berjalan menuju arah utara dan timur, menjelajahi pegunungan, daratan tinggi, dan padang-padang di Afganistan dan pegunungan Pamir sampai akhirnya mereka tiba di Kasgar, sekarang daerah ini masuk Xinjiang Uygur di Cina. Mereka lalu menyusuri jalan di sebelah Cekungan Tarim dan Gurun Gobi sebelum mereka sampai di Kambaluk, sekarang namanya Beijing. Lama perjalanan keseluruhan diperkirakan sekitar tiga setengah tahun karena keadaan cuaca yang tidak menentu dan Marcopolo yang sering sakit.
               
    Uraian Marco Tentang Kerajaan Khan
                Seperti sudah dijelaskan di atas tadi hubungan keluarga Polo dan Khan sangatlah baik. Bahkan menurut buku yang ditulis Marco, keluarga Polo diberi jabatan oleh Khan dalam kerajaannya. Memang pada waktu itu Khan tidak percaya kepada orang Cina yang dia taklukkan dan lebih percaya kepada orang luar.
                Marco juga menjelaskan bahwa di kerajaan Khan terdapat banyak kota metropolitan yang dia gambarkan kekayaan kota itu tak ternilai. Ia juga menceritakan tentang istana dari Khan yang ia sebut “Istana yang termegah.” Ia juga membandingkan antara Eropa dengan tata kota kerajaan Khan di mana ia mengatakan bahwa ternyata Timur lebih maju daripada Barat pada waktu itu.
                Yang menarik adalah saat dia menjelaskan beberapa kebudayaan dari orang mongol. Salah satunya adalah bahwa orang mongol suka mengadakan pernikahan bagi orang yang sudah meninggal. Jika di keluarga ada putranya yang meninggal dalam usia 3 tahun dan dikeluarga lain ada puterinya yang seusia juga meninggal, ayah-ayah mereka bisa memutuskan menikahkan mereka yang sudah meninggal tadi dan membuat sebuah perjanjian nikah lalu mengadakan penjamuan ala pernikahan. Tulisan Marco juga menjadi satu-satunya tulisan Eropa yang menjelaskan tentang negeri Jepang pada waktu itu. Walaupun hanya menjelaskan secara singkat, Marco menggambarkan bahwa negara Jepang masa itu sangat kaya sehingga Khan ingin menyerbunya.

    Kembali Ke Venesia dan Kemunculan Bukunya
                Marco dan keluarganya meninggalkan Cina pada tahun 1292 saat keluarga Polo membaca akan terjadi pergolakan di kerajaan Khan. Mereka berangkat dari daerah Quanzhou, kemudian singgah di Vietnam lalu mereka berangkat melalui Semenanjung Malaka dan Sumatera (Indonesia), dan Srilanka. Mereka lalu menuju pesisir India dan menuju Persia. Dia dan keluarganya tiba di Venesia setelah melakukan perjalanan dari cina selama 21 bulan.
    Konon, Marco menulis bukunya saat berada di penjara. Ia ditangkap saat menjadi kapten sebuah kapal saat terjadi pertikaian antara Genoa dan Venesia. Di dalam penjara ia bertemu dengan seseorang yang mengilhami dia untuk menuliskan perjalanannya. Nama orang itu adalah Rustichello yang telah mempunyai banyak pengalaman tentang menulis kisah-kisah dalam bahasa Perancis maupun Italia.
    Marco dibebaskan sekitar tahun 1299 sewaktu Venesia dan Genoa akhirnya berdamai. Ia kemudian kembali ke Venesia dan menikah. Ia memiliki tiga orang putri. Di usia 69 tahun dia menghembuskan nafasnya di kota kelahirannya itu, Venesia.
    Satu hal yang sangat unik ketika dia melewati Indonesia. Dalam bukunya dia menulis telah melihat Unicorn (kuda bertanduk), namun ternyata para ahli kemudian menyimpulkan bahwa yang dia lihat adalah Badak Bercula Satu Sumatera.

    No comments:

    Post a Comment

    Most Popular

    Featured Post

    Kisah Cinta Habibie-Ainun

    Nama lengkapnya adalah Hasri Ainun Besari, namun kemudian lebih dikenal sebagai Ainun Habibie. Dia adalah perempuan yang selalu ada d...

    Fashion

    Beauty

    Travel