• GOEDANG BIOGRAFI

    Monday, June 20, 2016

    Sejarah Masjid Djinguerebe, Masjid Unik di Timbuktu



    Sejarah Masjid Djinguerebe, Masjid Unik di Timbuktu
     
    Pernahkan mendengar tempat yang bernama Timbuktu? Mungkin nama tempat ini terdengar asing. Timbuktu merupakan nama tempat di Afrika. Dulu Afrika merupakan bagian dari pusat peradaban Islam. Kawasan itu dulu pernah tersimpan puluhan ribu naskah, tulisan ataupun transkrip berbagai ilmu pengetahuan. Namun seiring dengan meredupnya peradaban Islam, kejayaan yang yang pernah dicapai tenggelam dan hilang ditelan zaman. Timbuktu yang merupakan kota tandus dan gersang yang berlokasi di Mali, Afrika Barat tidak lagi mengenal Timbuktu sebagai pusat perdaban Islam di era modern. Dunia hanya mengenal Timbuktu sebagai kawasan berisikan bangunan antik yang berfungsi sebagai cagar budaya.
    Salah satu dari sisa-sisa kejayaan tersebut adalah Masjid Djinguereber. Arsitektur bangunan masjid terbesar di Timbuktu ini sangat unik karena dirancang dengan menggunakan material tanah lumpur, dengan arsitektur khas lokal dan warna alamiah coklat lumpur. Masjid ini dibangun di masa kejayaan Timbuktu. Kota ini pernah memiliki sebuah perguruan tinggi dan madrasah tersohor yang bernama Sankore. Universitas Sankore dibangun pada tahun 1581 di atas kota kuno yang telah berdiri abad ke 13-14. Saat itu, perguruan tinggi menjadi pusat pendidikan Islam, dengan kajian utama Alquran, astronomi, logika, serta sejarah. Salah satu tokoh cendekia ternama yang hidup masa itu adalah Ahmad Baba.
    Kota inipun bahkan pernah menjadi pusat perdagangan yang ramai, hingga sebuah kebakaran hebat memusnahkan sisa-sisa peradaban yang ada di kota tersebut. Abad ke 15 dan 16 sebagai masa keemaasan Timbuktu. Musafir dari segala penjuru akan menyempatkan diri untuk singgah di kota ini, demi mendapatkan informasi-infiormasi dan pengetahuan baru dari kota tersebut.
    Cerita tentang kemajuan kota ini terus menyebar ke penjuru dunia melalui kisah perjalanan yang ditulis oleh Hasan ibn Muhammed al-Wazzan al-Fasi alias Leo Africanus atau Joannes Leo Africanus. Dalam perjalanannya, Ibnu Battuta juga pernah menyebut kota tersebut. Seiring berjalannya waktu kota ini mengalami kemerosotan begitu ceoat setelah diinvasi oleh tentara kaum Morisco atau Muslim Spanyol dan Portugis yang telah berpindah agama menjadi Katolik saat era penaklukan Spanyol. Mereka menginvasi Timbuktu untuk mendukung kepentingan kesultanan Marokko pada tahun 1591. 

    No comments:

    Post a Comment

    Most Popular

    Featured Post

    Kisah Cinta Habibie-Ainun

    Nama lengkapnya adalah Hasri Ainun Besari, namun kemudian lebih dikenal sebagai Ainun Habibie. Dia adalah perempuan yang selalu ada d...

    Fashion

    Beauty

    Travel